Peran Perempuan sebagai Garda Terdepan Ekonomi Berkeadilan Berbasis Konservasi di Flores

RUTENG – Melanjutkan semangat pemberdayaan dari hari pertama, rangkaian kegiatan Gender Leadership Training yang diinisiasi oleh IN-FLORES bersama Balai Besar KSDA Nusa Tenggara Timur memasuki hari kedua pada Jumat (26/06/2026).

 Fokus diskusi hari ini bergeser pada pembedahan beban ganda yang dipikul perempuan serta posisi krusial mereka dalam pelestarian sumber daya alam dan pengembangan produk ekonomi lokal yang menjadi hasil dampingan IN-FLORES.  

*Manifestasi "Filosofi Pohon" dalam Karya Nyata*

Dalam pelatihan ini, IN-FLORES menerapkan "Filosofi Pohon" sebagai fondasi pengembangan diri dan usaha. Keberhasilan para mitra dampingan di lapangan merupakan buah nyata dari filosofi tersebut, di mana akar yang kuat berupa nilai-nilai lokal, batang yang kokoh berupa kapasitas SDM, serta cabang dan buah yang berupa produk ekonomi kreatif, kini telah menjadi realitas yang terlihat di meja pameran.  

Produk-produk seperti Keripik Talas dari KTH Sahabat Alam Rana Mese, Abon Ikan Tuna khas Pota dari KTH Weki Ndai Asli Pota, serta minuman herbal Liwut Sari (temulawak dan jahe merah), menjadi bukti nyata produktivitas masyarakat lokal. Selain itu, karya estetis berupa kain tenun dengan motif tradisional serta aksesori pelengkap seperti gantungan kunci dan gelang menjadi buah manis dari kreativitas perajin perempuan yang didampingi oleh IN-FLORES.  

*Meninjau Efektivitas Pendampingan Ekonomi Lokal*

Salah satu sorotan utama dalam diskusi hari kedua adalah keberhasilan produk-produk tersebut dalam meningkatkan ekonomi keluarga. Sesi ini membedah bagaimana perempuan mengambil peran sentral dalam proses produksi, mulai dari teknik menenun, pemilihan motif, hingga pewarnaan.

Meskipun demikian, tantangan akses masih menjadi perhatian utama. "Istri /perempuan akses modal atau uang itu lebih pada izinan suami/laki-laki," ungkap narasumber saat membedah kesenjangan ekonomi. Untuk mengatasi hal ini, IN-FLORES terus mendorong agar perempuan tidak hanya ahli secara teknis produksi, tetapi juga mampu mengelola pendapatan usaha secara mandiri.

"Perempuan memiliki beban ganda dan kesempatan untuk menghasilkan uang hanya sedikit. Belum ada kesetaraan gender," tegas Alberth Amtiran, S.TP (Youth Entrepreneurship Manager PLAN) dalam sesi tersebut. Oleh karena itu, para fasilitator IN-FLORES mendorong langkah konkret untuk "tutup kesenjangan upah, retribusi kerja domestik, perkuat akses modal, kesetaraan pendidikan, pengangguran yang responsif gender".  

*Perempuan sebagai "Rahim Kehidupan" dalam Konservasi*

Sesi mengenai Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) Hayati dan Ekosistem yang didampingi oleh IN-FLORES menyoroti peran sentral perempuan sebagai penjaga kelestarian alam. Pemateri menegaskan bahwa konservasi harus berakar pada peran perempuan karena posisi mereka yang sangat fundamental bagi kehidupan.  

"Ibu itu multitasking, ibu bisa segalanya... sehingga fokus konservasi adalah kaum ibu karena mereka adalah rahim kehidupan," ungkap pemateri dalam sesi tersebut.  

Lebih jauh, Mulyo Hutomo (North Landscape Seascape Coordinator IN-FLORES), mengutip Ritus adat Manggarai, menekankan filosofi peran perempuan: "Konservasi ini mengakar pada peran kaum perempuan, perempuan dilihat sebagai pusat rumah Mbaru gendang /tiang tengah rumah besar; istilah Manggarai perempuan digotong oleh seluruh masyarakat dalam wilayah atau gendang tersebut".  


*Kolaborasi sebagai Kunci Perubahan*

Kegiatan hari kedua ditutup dengan ajakan bagi seluruh peserta untuk menjadi agent of champion bagi kesetaraan gender dan keberlangsungan lingkungan. Keberhasilan program konservasi dan usaha tenun di bawah naungan IN-FLORES bergantung pada sejauh mana pelibatan perempuan dilakukan.  

"Melibatkan perempuan dalam Konservasi dengan dukungan yang penuh dan mampu berkolaborasi dengan semua pihak" menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga alam Flores, cetus Rafselia Novalina (Safe Guard Officer IN-FLORES). Prinsip utama yang ditekankan adalah bahwa "Konservasi bukan hanya tentang melindungi hutan dari manusia, tetapi tentang memastikan bahwa manusia dapat hidup selaras dengan alam untuk masa depan yang lebih baik".  

Laporan: Melky 
Staf Lembaga Nusa Bunga Mandiri Ruteng Manggarai 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Dukungan Emosional bagi Ibu Pasca Keguguran

Aku Sehelai Kain Putih

Degradasi Makna Kata