Menyalakan Literasi Digital dari Akar Rumput
MENYALAKAN LITERASI DIGITAL DARI AKAR RUMPUT
(Sinergitas Teologi Terlibat UNIKA Ruteng dan KBG St. Gabriel Melawan Hoaks serta Menjaga Masa Depan Anak)
(foto bersama dan berikan hadiah buku Pater Anton E.Waser, SVD -Alm. kepada mahasiswa UNIKA Prodi Teologi _)
GEWAK, JURNAL PASTORAL — Di tengah kepungan era disrupsi informasi, ketahanan keluarga kristiani kembali diuji. Komunitas Basis Gerejani (KBG) kini dituntut tidak hanya menjadi persekutuan ritus liturgis, tetapi juga menjadi agen filter sosial. Refleksi pastoral yang membumi ini tertangkap jelas dalam kolaborasi ilmiah-pastoral yang digelar di wilayah Gewak, Paroki Santu Mikhael Kumba, Kamis (28/5).
Sejumlah mahasiswa Program Studi Teologi Universitas Katolik Indonesia (UNIKA) Santu Paulus Ruteng melakukan kunjungan lapangan dan wawancara mendalam bersama Bapak Milikior Sobe, S.Fil., pengurus inti KBG St. Gabriel. Dialog yang berlangsung dinamis dari pukul 16.00 hingga 17.30 WITA tersebut membahas arah pastoral kontekstual bertajuk "KBG Anti Hoax (Hate Speech) dan Sayang Anak".
Keunikan Sosiologis Lintas Iman
Secara kuantitas gerejani, KBG St. Gabriel merangkul 20 Kepala Keluarga (KK) Katolik. Namun, realitas geografis menempatkan 20 KK ini hidup berdampingan secara harmonis dengan pemukiman lintas iman, mencakup penganut agama Islam dan Kristen Protestan. Pluralitas kultural dan keyakinan ini diejawantahkan oleh warga setempat sebagai ruang dialog kehidupan.
Menurut Milikior Sobe, komitmen bersama untuk menolak hoaks dan ujaran kebencian (*hate speech*) di media sosial adalah kunci krusial dalam merawat kerukunan di wilayah Gewak. Melalui mekanisme konfirmasi internal kemasyarakatan, potensi gesekan yang dipicu oleh provokasi dunia maya dapat diredam secara preventif.
Disiplin Android dan Pondasi Karakter Anak
Tantangan riil lain yang dibahas adalah perlindungan moral anak terhadap cengkeraman gawai digital. KBG St. Gabriel secara konsisten mengampanyekan gerakan kasih sayang anak melalui pembatasan waktu layar (*screen time*) penggunaan *handphone* atau Android.
Para orang tua dalam komunitas 20 KK ini didorong untuk menerapkan kedisiplinan yang ketat.
Penyelamatan masa depan anak dari dampak buruk adiksi gawai dinilai sebagai investasi iman terbesar. Kedisiplinan ini dipandang sebagai bentuk nyata perwujudan keluarga Katolik sejati yang dibentuk sejak masa kanak-kanak, mengarahkan teknologi sebagai media edukasi, bukan perusak moralitas.
Manifestasi Teologi Terlibat
Pertemuan ilmiah pastoral sore itu menelurkan gagasan penting mengenai arah pendidikan teologi modern. Kehadiran para mahasiswa UNIKA Santu Paulus Ruteng mengonfirmasi pentingnya 'Teologi Terlibat' (*Engaged Theology*). Teologi tidak lagi terisolasi di dalam menara gading akademis, melainkan bersentuhan langsung dengan realitas kehidupan dan tantangan nyata yang dihadapi umat.
Melalui jalinan teologi kontekstual ini, gereja basis di tingkat KBG diharapkan mampu bertransformasi menjadi komunitas yang cerdas, inklusif, literat terhadap teknologi, dan tangguh dalam mendidik tunas-tunas muda gereja menyongsong masa depan.
Oleh: Melky (Pen.)
Komentar
Posting Komentar