Jurgen Habermas Wafat

*Habermas Wafat Saat Dunia Kembali Berperang*

_Obituari untuk Habermas_

Oleh Ferdi Jehalut

Dunia kehilangan seorang pemikir besar pada saat dunia terguncang oleh perang. Ketika konflik bersenjata kembali menjadi bahasa yang lazim dalam politik internasional, Jürgen Habermas, filsuf yang sepanjang hidupnya memperjuangkan kekuatan dialog, justru berpulang pada usia ke-96 tahun. 

Ini adalah sebuah kehilangan besar bagi orang-orang yang selalu memperjuangkan dialog-dialog emansipatoris di seluruh dunia. Bagi saya, lebih dari sekadar sebagai intelektual publik yg setia menawarkan dialog-dialog emansipatoris, Habermas adalah sosok guru perdamaian global. 

Ketika pemimpin-pemimpin fasis dan populis sayap kanan gemar memproduksi demagogi digital yang menghancurkan kohesi sosial masyarakat global, Habermas justru hadir untuk meyakinkan kita bahwa manusia dapat menyelesaikan konflik melalui percakapan rasional.

Ia menolak menjadikan manusia sebagai budak kondisi alamiahnya sebagaimana digambarkan Thomas Hobbes. Baginya, manusia tidak buas dan brutal seperti dibayangkan Hobbes yang mengantarnya pada kondisi perang semua melawan semua (_bellum omnium contra omnes_). Manusia bagi Habermas - sama seperti Aristoteles - adalah _ens rationale_ (meski gagasan ini tidak secara eksplisit dia jelaskan). Melalui kekuatan akal budi atau rasionalnya itulah manusia bisa berdialog untuk menciptakan tatanan dunia yang damai. 

Peta politik global hari ini memperlihatkan gambaran yang kontras dengan keyakinan tersebut. Di Timur Tengah, ketegangan antara Iran, Israel, Amerika dan negara-negara Teluk terus meningkat dan berkali-kali memicu eskalasi militer. Di Eropa Timur, perang Rusia–Ukraina masih berlangsung dengan korban yang terus bertambah dan diplomasi yang belum menemukan jalan keluar. Di Asia Selatan, hubungan Afghanistan dan Pakistan kembali memanas dengan bentrokan di wilayah perbatasan. Berbagai konflik ini memperlihatkan satu kecenderungan yang sama: dalam situasi krisis, negara-negara kembali mengandalkan kekuatan militer sebagai cara menyelesaikan perselisihan. Ini seolah-olah membenarkan keyakinan lama bahwa jika ingin damai, bersiaplah untuk perang. Padahal perang selalu melahirkan krisis dan luka kolektif. 

Kondisi tersebut membuat kepergian Habermas terasa semakin relevan untuk direnungkan. Sepanjang karier intelektualnya, ia mencoba menjawab satu pertanyaan mendasar yang lahir dari pengalaman sejarah Eropa abad ke-20: bagaimana masyarakat modern bisa jatuh ke dalam kekerasan politik yang begitu destruktif. Habermas tumbuh di Jerman pasca-Nazi, sebuah masyarakat yang harus menghadapi kenyataan pahit bahwa propaganda, manipulasi informasi, dan nasionalisme ekstrem pernah membawa bangsa itu ke dalam tragedi besar. Dari pengalaman sejarah itulah ia mulai memikirkan pentingnya komunikasi yang bebas dan rasional dalam kehidupan publik.

Pemikiran tersebut kemudian berkembang menjadi gagasan tentang rasionalitas komunikatif. Menurut Habermas, manusia tidak hanya bertindak untuk memenangkan pertarungan kepentingan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mencapai pemahaman bersama (_mutual understanding_) melalui dialog. Dalam ruang komunikasi yang terbuka, bebas, dan setara, individu dapat mengemukakan argumen, mengkritik, dan saling menguji klaim kebenaran. Proses ini memungkinkan masyarakat membangun kesepakatan yang lebih rasional dan lebih adil dibandingkan keputusan yang dipaksakan oleh kekuasaan.

Dari gagasan itu pula lahir konsep demokrasi deliberatif yang menjadi salah satu kontribusi penting Habermas dalam teori politik modern. Demokrasi, menurutnya, tidak cukup dipahami sebagai prosedur pemilihan umum atau kompetisi partai politik yang bersifat formal sebagaimana J. Schumpeter. Demokrasi membutuhkan ruang publik yang sehat, di mana warga dapat berdiskusi secara bebas tentang kebijakan dan arah masa depan bersama. Tanpa percakapan publik yang rasional, demokrasi mudah berubah menjadi arena manipulasi opini, propaganda, atau mobilisasi emosi massa.

Namun perkembangan dunia kontemporer menunjukkan tantangan besar terhadap ideal tersebut. Di banyak tempat, ruang publik semakin dipenuhi polarisasi dan pertarungan narasi. Media sosial mempercepat penyebaran informasi sekaligus memperkuat kecenderungan masyarakat untuk hanya mendengar pandangan yang sejalan dengan keyakinannya. Dalam situasi seperti itu, percakapan publik sering berubah menjadi pertengkaran, sedangkan argumentasi rasional semakin sulit mendapatkan ruang.

Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kehidupan politik domestik suatu negara, tetapi juga hubungan internasional. Konflik antarnegara kini tidak hanya berlangsung di medan tempur, melainkan juga di ruang informasi. Propaganda digital, disinformasi, dan perang narasi menjadi bagian dari strategi geopolitik modern. Setiap pihak berusaha membangun cerita yang membenarkan posisinya dan melemahkan legitimasi lawan. Akibatnya, ruang bagi dialog yang jujur dan rasional semakin menyempit.

Dalam konteks inilah gagasan Habermas kembali terasa penting. Ia mengingatkan bahwa komunikasi publik yang sehat merupakan fondasi utama bagi demokrasi dan perdamaian. Ketika ruang komunikasi dipenuhi manipulasi atau kebencian, masyarakat kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan konflik secara rasional. Pada titik itu, kekerasan sering muncul sebagai jalan keluar yang dianggap paling cepat dan efektif.

Tentu saja, pemikiran Habermas tidak pernah menjanjikan bahwa dialog akan selalu berhasil mencegah perang. Sejarah menunjukkan bahwa kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan sering kali mendorong negara mengambil keputusan yang melampaui pertimbangan rasional. Namun gagasan Habermas mengingatkan bahwa tanpa upaya terus-menerus membangun ruang komunikasi yang sehat, peluang bagi penyelesaian konflik secara damai akan semakin kecil.

Karena itu, kepergian Habermas seharusnya tidak hanya dipandang sebagai akhir dari perjalanan hidup seorang filsuf besar. Ia juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan kembali kondisi ruang publik kita hari ini. Apakah masyarakat masih memberi ruang bagi argumentasi rasional, atau justru semakin tenggelam dalam kebisingan propaganda dan emosi kolektif.

Habermas pernah menyebut modernitas sebagai sebuah "proyek yang belum selesai". Demokrasi, kebebasan, dan rasionalitas publik tidak pernah sepenuhnya aman; semuanya harus terus diperjuangkan melalui institusi, pendidikan, dan praktik komunikasi yang sehat. Tanpa usaha tersebut, masyarakat mudah kembali pada pola lama di mana kekuasaan dan kekerasan menentukan arah sejarah.

Ketika Habermas wafat saat dunia kembali berperang, ironi itu seakan mengingatkan kita pada satu hal yang sederhana namun mendasar. Perdamaian tidak hanya bergantung pada perjanjian politik atau keseimbangan militer. Ia juga bergantung pada kemampuan manusia untuk berbicara, mendengar, dan mencari pemahaman bersama. Tanpa kemampuan itu, dunia akan terus berulang kali kembali pada pilihan yang sama: perang sebagai jalan keluar terakhir.

Oleh: Ferdinandus Jahalut

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Dukungan Emosional bagi Ibu Pasca Keguguran

Aku Sehelai Kain Putih

Degradasi Makna Kata