Acara Adat Pentang Pitak: Dokter Rian Madar dan Istri dari Kalimantan Disambut Secara Sakral dalam Keluarga Tenda Ruteng, Manggarai
Acara Adat Pentang Pitak: Dokter Rian Madar dan Istri dari Kalimantan Disambut Secara Sakral dalam Keluarga Tenda Ruteng, Manggarai
Ruteng, Manggarai – 19 Maret 2026 – Keluarga besar Tenda dari wa'u Rutung, Langke Rembong, menggelar rangkaian ritus adat Manggarai yang sakral untuk menyambut dokter Rian Madar beserta istrinya, dr. Ela (dari suku Dayak, Kalimantan). Acara puncak berupa Pentang Pitak digelar pada Kamis, 19 Maret 2026, setelah ritus pendahuluan Teing Hang pada malam sebelumnya.
Rangkaian acara ini diprakarsai oleh Bapak Lazarus Madar dan istrinya, Mama Tina Madar, sebagai bentuk dukungan penuh kepada putra mereka, dr. Rian Madar, yang telah menyelesaikan studi kedokteran dan membangun keluarga dengan dr. Ela. Prosesi adat ini menandai penerimaan resmi dr. Ela ke dalam keluarga dan suku Tenda Ruteng, sekaligus pembersihan diri (gerep ruha) agar ia sepenuhnya menjadi bagian dari adat Manggarai.
Ritus Teing Hang: Penghormatan kepada Leluhur
Pada Rabu malam, 18 Maret 2026, digelar ritus Teing Hang di hadapan leluhur keluarga besar Tenda, khususnya keturunan Bapak Gradus Gerong (+) dan Mama Magdalena Mamu. Ritus ini merupakan ungkapan syukur, penghormatan, serta permohonan izin dan perlindungan dari para pendahulu yang telah berpulang kepada Allah Sang Empu (Sang Pencipta Kehidupan).
Acara dihadiri keluarga besar Tenda dari garis Bapak Gradus Gerong serta pihak anak wina (keluarga dari saudari perempuan). Ritus Teing Hang ditutup dengan santap malam bersama, sebagai pengikat silaturahmi keluarga menjelang prosesi utama keesokan harinya.
Gerep Ruha: Injak Telur sebagai Simbol Pembersihan dan Penerimaan
Pada Kamis, 19 Maret 2026, dilaksanakan ritual gerep ruha (artinya "injak telur"), yang menjadi simbol pembersihan diri dr. Ela dari adat asal suku Dayak untuk sepenuhnya masuk ke dalam adat Manggarai, khususnya wa'u Rutung keluarga Tenda. Prosesi ini juga menandai izin leluhur atas pernikahan lintas suku ini.
Pasangan dr. Rian dan dr. Ela disambut dalam nuansa adat Manggarai yang khas: dr. Ela dihiasi bali belo (ikat kepala tradisional perempuan Manggarai), sementara dr. Rian mengenakan sapu (ikat kepala pangeran). Prosesi berjalan lancar, dimulai dengan penjemputan di depan gerbang rumah besar keluarga Bapak Herman dan Bapak Lasa Madar—tempat kelahiran dr. Rian—yang merupakan rumah leluhur dari kakek Gradus Gerong dan nenek Magdalena Mamu.
Ritus gerep ruha dipimpin oleh Mu Curup agu torok yang dipercayakan memandu acara. Setelah memasuki rumah besar, pasangan tersebut disaksikan langsung oleh keluarga besar anak wina dan anak rona Tenda (keturunan ema Gradus Gerong), serta perwakilan dari keluarga dr. Ela di Kalimantan, yang diwakili oleh Bapak Tua Golo sebagai gendang Tenda.
Pentang Pitak: Puncak Pembersihan dan Pengesahan Adat
Di dalam rumah besar, digelar ritus Pentang Pitak sebagai pembersihan diri dr. Rian dan dr. Ela, menandai pengesahan resmi mereka sebagai anak Manggarai suku Tenda. Ritual ini dilanjutkan dengan Torok Manuk, yaitu penyembelihan ayam jantan putih, di mana darahnya dioleskan pada kaki pasangan sebagai simbol pengudusan dan penerimaan penuh oleh leluhur serta keluarga.
Acara diakhiri dengan santap siang bersama seluruh keluarga, diiringi saling sapa dalam nuansa kasih persaudaraan yang hangat. Seluruh prosesi berjalan lancar tanpa hambatan, mencerminkan kekuatan nilai adat Manggarai dalam menjaga harmoni keluarga lintas budaya.
Acara ini tidak hanya mempererat ikatan keluarga, tetapi juga menjadi bukti pelestarian tradisi Manggarai di era modern, di mana pernikahan lintas suku tetap dihormati melalui ritus adat yang sakral.
**Tentang Penulis:
Artikel ini ditulis oleh Melky Sobe Rengka, ponaan dari Bapak Lazarus Madar sekaligus anak wina dari keluarga Bapak Gradus Gerong. Istri beliau, Enu Kristina Ndia, merupakan anak dari Agata Dudet, saudari kandung Bapak Lazarus Madar.**
Komentar
Posting Komentar