In Memoriam Florisan

*In Memoriam*

*Yosef Maria Florisan* 

31 Mei 1967 – 5 Januari 2026
*Penerjemah, Filsuf, Penjaga Makna*

Di Kumba, Ruteng, Manggarai, pada 31 Mei 1967, lahirlah seorang anak yang kelak memilih setia pada jalan kata-kata. Pada 5 Januari 2026, di Klinik Santa Elizabeth Nita, Maumere, Yosef Maria Florisan menyelesaikan ziarah hidupnya—pergi dalam keheningan yang selaras dengan seluruh corak hidup dan pengabdiannya.

Ia adalah sarjana filsafat tamatan STFK Ledalero, seorang intelektual dengan kepekaan bahasa yang jarang dan kedalaman refleksi yang matang. Sejak masa studi, ia telah menunjukkan kecenderungan pada wilayah yang tidak mudah: filsafat modern Eropa, bahasa asing, dan kerja konseptual yang menuntut ketelitian ekstrem. Bakat linguistiknya—terutama dalam bahasa Inggris dan Jerman—bukanlah sekadar kecakapan teknis, melainkan ekspresi dari etos filosofis: kesetiaan pada makna sebelum kesetiaan pada bentuk.

Skripsi akhirnya berjudul “Memperkenalkan Doktrin Kehendak untuk Berkuasa dalam Antropologi Filosofis Nietzsche”. Karya ini patut dikenang bukan hanya sebagai tugas akademik, melainkan sebagai tindakan intelektual yang melampaui zamannya. Pada masa ketika sumber-sumber filsafat Nietzsche belum tersedia dalam bahasa Indonesia, Yosef Maria Florisan bekerja langsung dengan teks-teks asing, menyigi gagasan Wille zur Macht secara antropologis—bukan sekadar sebagai konsep metafisis, melainkan sebagai kunci untuk memahami manusia modern, hasrat, konflik, dan pencarian makna. Sejak awal, ia telah menempatkan diri sebagai perantara dunia pemikiran, bukan sekadar penafsir lokal.

Pernah menapaki jalan sebagai calon imam Keuskupan Ruteng, ia kemudian menarik diri dari jalur tahbisan. Namun hidupnya justru menunjukkan bahwa ia tidak pernah menarik diri dari panggilan. Ia hanya memindahkannya ke medan lain: penerjemahan—sebuah bentuk askese intelektual yang jarang dikenali sebagai panggilan rohani.

Di Penerbit Ledalero, Maumere, Flores, ia mengabdikan diri menangani terjemahan naskah-naskah asing. Di sanalah ia menjalani panggilan hidupnya secara penuh. Ia bekerja dalam kesunyian, dalam disiplin yang panjang, dengan kesadaran bahwa menerjemahkan bukan sekadar memindahkan kalimat, melainkan menjaga integritas pemikiran lintas bahasa dan budaya.

Saya sendiri pernah bekerja bersama almarhum sebagai staf di Penerbit Ledalero, dan dari kedekatan kerja itulah panggilan asketis ini menjadi nyata, bukan sekadar konsep. Yosef Maria Florisan bukan pribadi yang banyak berbicara tentang dirinya; ia mengajar melalui cara bekerja. Ketelitian pada istilah, kesabaran membaca ulang paragraf yang sama, dan kehati-hatian memilih padanan kata dijalani tanpa keluhan dan tanpa sikap ingin menonjol. Bekerja bersamanya berarti belajar bahwa penerjemahan menuntut tanggung jawab moral: setia pada penulis, jujur pada pembaca, dan rendah hati terhadap bahasa itu sendiri. Dalam kerja harian yang tampak biasa, ia justru memperlihatkan kedalaman panggilan—bahwa kesetiaan pada hal-hal kecil adalah bentuk paling konkret dari kesetiaan pada kebenaran.
Buku-buku yang hari ini dapat ditelusuri dalam jejak digital hanyalah sebagian kecil dari warisan intelektualnya. Ia menerjemahkan banyak karya besar teologi, sejarah Gereja, etika, dan biblika—di antaranya tulisan-tulisan Stephen B. Bevans, Karel Steenbrink, Karl-Heinz Peschke, Leonardo Boff, Walter Brueggemann, dan lain-lain. Namun di balik judul-judul yang tercatat itu, masih terdapat karya-karya lain yang belum terarsipkan, termasuk puluhan artikel, bahan ajar, dan naskah akademik yang ia alihbahasakan demi kepentingan studi, formasi, dan pengembangan pemikiran teologi-filsafat di Indonesia.
Dengan kata lain, jejak Yosef Maria Florisan lebih luas daripada yang dapat dihitung, dan lebih dalam daripada yang dapat didokumentasikan. Banyak pembaca mungkin tidak pernah mengenal namanya, tetapi berpikir melalui kalimat-kalimat yang ia jernihkan. Banyak mahasiswa dan dosen mengutip gagasan yang masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui tangannya—tanpa menyadari kerja panjang yang memungkinkan perjumpaan itu terjadi.

Secara filosofis, hidupnya adalah kesaksian bahwa makna tidak selalu dilahirkan oleh mereka yang paling terlihat, tetapi oleh mereka yang paling setia. Ia tidak membangun sistemnya sendiri, tetapi memungkinkan sistem-sistem besar berpindah tempat dengan jujur. Ia tidak menonjolkan diri, tetapi menjaga agar kebenaran tidak terdistorsi oleh kelalaian bahasa.

Kini, ia telah menyelesaikan terjemahan terakhirnya—dari bahasa dunia ke dalam keheningan kekal. Namun sebagaimana semua penerjemah sejati, ia tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam kalimat-kalimat yang terus dibaca, dalam konsep-konsep yang terus dipikirkan, dan dalam kesadaran Gereja serta dunia akademik yang ia layani dengan setia.

Melalui kerjanya, pemikiran-pemikiran besar dunia diperkenalkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kejernihan dan tanggung jawab ilmiah. Di antara karya-karya penting yang diterjemahkannya adalah:
• Model-model Teologi Kontekstual – Stephen B. Bevans
• Terus Berubah – Tetap Setia: Dasar, Pola, Konteks Misi – Stephen B. Bevans & Roger P. Schroeder
• Teologi dalam Perspektif Global – Stephen B. Bevans
• Orang-Orang Katolik di Indonesia 1808–1942, Jilid II – Karel Steenbrink
• Orang-Orang Katolik di Indonesia, Jilid I & II – Karel Steenbrink
• Etika Kristiani I: Pendasaran Teologi Moral – Karl-Heinz Peschke, SVD
• Kekristenan: Sebuah Ikhtisar – Leonardo Boff
• Minoritas yang Percaya Diri – Karel Steenbrink
• Menabur Kehidupan dan Pengharapan: Spiritualitas Hak Asasi Manusia – Michael Heinz & Yosef Maria Florisan
• Kekristenan dan Teologi Asia: Inkulturasi, Dialog Antaragama, Pembebasan Paripurna – Edmund Kee-Fook Chia
• Teologi Perjanjian Lama I & II: Kesaksian, Tangkisan, Pembelaan – Walter Brueggemann
• Kekristenan: Gerakan Universal, Jilid II – Irvin Dale T.

Selamat jalan, Yosef Maria Florisan.
Engkau memperkenalkan Nietzsche, menyeberangkan teologi dunia, dan menjaga agar bahasa Indonesia layak menjadi rumah bagi pemikiran besar.
Kini, engkau beristirahat dalam Kebenaran yang tak lagi memerlukan terjemahan.

Oleh: J.Orong SVD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Dukungan Emosional bagi Ibu Pasca Keguguran

Aku Sehelai Kain Putih

Degradasi Makna Kata