Guru Punya Peran Strategis Perkuat Pendidikan Karakter dan Kewarganegaraan untuk Masyarakat yang Kohesif

Jakarta, 24 November 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional, Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTK), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia bekerja sama dengan Institut Leimena menyelenggarakan Webinar Internasional bertema “Peran Guru dalam Memperkuat Pendidikan Karakter dan Kewarganegaraan dalam Membangun Masyarakat yang Kohesif.” Kegiatan ini didukung oleh Templeton Religion Trust dan diikuti para pendidik dari berbagai daerah di Indonesia serta peserta internasional.

Acara yang berlangsung Senin malam (24/11), pukul 19.00–21.00 WIB ini menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka dari Indonesia dan Singapura, dengan terjemahan simultan dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.


Komitmen Memperkuat Karakter Bangsa

Dalam sambutan pembukaannya, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., Direktur Jenderal GTK, menekankan peran sentral guru dalam menjaga ketahanan sosial bangsa.

“Guru bukan hanya pengajar, tetapi penjaga masa depan karakter bangsa. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan disinformasi, guru berada di garis depan untuk menanamkan nilai, empati, dan tanggung jawab sosial,” ujar Prof. Nunuk.

Sementara itu, Matius Ho, Direktur Eksekutif Institut Leimena, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas budaya dalam pendidikan.

“Indonesia adalah miniatur Asia Tenggara. Jika guru-guru kita kuat dalam literasi lintas budaya, maka kita sedang membangun dasar masyarakat ASEAN yang lebih inklusif dan kohesif,” tegasnya.


Abdul Mu’ti: Pendidikan Karakter adalah Fondasi Kohesi Sosial

Sebagai pembicara kunci, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Abdul Mu'ti, M.Ed., menyampaikan bahwa pendidikan karakter dan kewarganegaraan merupakan prioritas nasional yang sejalan dengan visi ASEAN 2045.

“Kita tidak hanya membangun siswa yang cerdas, tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab, berempati, dan mampu hidup dalam keberagaman. Pendidikan karakter bukan tambahan, tetapi fondasi peradaban,” tutur Prof. Mu’ti.

Ia menekankan bahwa peran guru sangat vital dalam menghadapi tantangan intoleransi, polarisasi, dan misinformasi di era digital.


Arah Kebijakan Nasional: Tantangan Nyata, Peran Guru Nyata

Dalam paparannya, Arif Jamali Muis, M.Pd., Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, menegaskan urgensi kebijakan karakter dalam pendidikan Indonesia.

“Kita membutuhkan guru yang tidak hanya memahami mata pelajaran, tetapi juga mampu membimbing siswa menjadi warga negara yang kritis dan inklusif. Itulah arah kebijakan pendidikan saat ini,” ujarnya.

Arif menambahkan bahwa program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) menjadi contoh nyata bagaimana guru bisa menjadi agen kohesi sosial.


Pembelajaran dari Singapura: Karakter dan Kewarganegaraan sebagai Pilar

Prof. Tan Oon Seng, Director Singapore Centre for Character and Citizenship Education, memberikan perspektif kawasan tentang pentingnya pendidikan karakter.

“Di masyarakat plural seperti Singapura dan Indonesia, guru adalah jembatan yang menghubungkan perbedaan. Mereka membantu siswa melihat keberagaman sebagai kekuatan, bukan ancaman,” jelas Prof. Tan.

Ia juga menyoroti tantangan polarisasi dan disinformasi digital yang meluas di kawasan Asia Tenggara.


Karakter, Empati, dan Gender dalam Masyarakat Majemuk

Guru Besar UMM, Prof. Dr. Trisakti Handayani, M.M., menekankan bahwa guru perlu memahami dinamika sosial dan budaya masyarakat multikultural.

“Lingkungan sekolah adalah cermin masyarakat. Jika guru mampu menumbuhkan empati, menghargai perbedaan gender dan budaya, maka kohesi sosial akan tumbuh sejak bangku pendidikan,” ungkap Prof. Trisakti.


Riset Kohesi Sosial Asia Tenggara: Pendidikan Memegang Peranan Kunci

Dr. Leong Chan Hoong, peneliti kohesi sosial dari NTU Singapura, memaparkan temuannya terkait perkembangan kohesi sosial di ASEAN.

“Kohesi sosial bukan hanya tentang harmoni, tetapi rasa saling percaya. Pendidikan—khususnya peran guru—berpengaruh besar membentuk rasa percaya itu,” tegas Dr. Leong.

Ia menambahkan bahwa tren kawasan menunjukkan perlunya penguatan pendidikan kewarganegaraan berbasis dialog.


Literasi Keagamaan Lintas Budaya: Model Pendidikan Karakter untuk ASEAN

Dekan FTK UIN Sunan Ampel, Prof. Dr. H. Muhammad Thohir, menegaskan bahwa Literasi Keagamaan Lintas Budaya adalah pendekatan konkret dalam memperkuat pendidikan karakter.

“Dalam konteks masyarakat majemuk, pemahaman lintas agama dan budaya bukan pilihan, tetapi kebutuhan. Guru yang memiliki kompetensi ini akan mampu menciptakan ruang belajar yang inklusif dan damai,” jelas Prof. Thohir.

Ia menilai model LKLB relevan untuk diterapkan di kawasan ASEAN yang sangat beragam.


Kontribusi Pendidikan untuk ASEAN 2045

Webinar ini menegaskan kembali komitmen ASEAN Community Vision 2045 yang ingin mewujudkan kawasan “resilient, innovative, dynamic, and people-centered.”

Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang telah menjangkau lebih dari 10.000 guru dari 38 provinsi menjadi kontribusi nyata masyarakat sipil dalam memperkuat kohesi sosial.

Moderasi acara dipandu oleh Rafa Basyirah, alumni Pelatihan LKLB Angkatan 41 sekaligus Kepala MI An Nahl, Jakarta.


Penutup

Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan pada peran guru sebagai agen transformasi sosial. Melalui kolaborasi lintas budaya dan penguatan karakter, guru diyakini menjadi kunci bagi Indonesia dan ASEAN untuk membangun masyarakat yang inklusif, damai, dan kohesif pada tahun 2045.


Sumber Institut Leimena 

#kemenkumhamRI

#LKLB

#kemenagRI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urgensi Dukungan Emosional bagi Ibu Pasca Keguguran

Aku Sehelai Kain Putih

Degradasi Makna Kata