Guru Kebijaksanaan di Abad ke-21: Refleksi Filsafat Xúnzǐ* pada Hari Guru Nasional dan HUT PGRI 2025
Guru Kebijaksanaan di Abad ke-21: Refleksi Filsafat Xúnzǐ* pada Hari Guru Nasional dan HUT PGRI 2025
Oleh: Milikior Sobe, S.Fil.**
Hari Guru Nasional dan HUT PGRI setiap tanggal 25 November membuka ruang yang sangat bermakna bagi refleksi mendalam tentang arah pendidikan bangsa. Pada abad ke-21 ini, ketika teknologi, informasi, dan budaya global bergerak begitu cepat, guru dipanggil untuk kembali menjadi *pembimbing kebijaksanaan*. Perayaan Hari Guru menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar transmisi pengetahuan, tetapi “proses pembentukan manusia dalam seluruh dimensi kemanusiaannya.” Refleksi ini menemukan pijakan kuat dalam pemikiran Xúnzǐ, seorang filsuf yang menegaskan bahwa manusia “tidak otomatis menjadi baik, tetapi harus dibentuk melalui pendidikan dan latihan” (Fung Yu-Lan, 1990:187). Maka, momentum Hari Guru perlu menjadi panggilan moral untuk memaknai kembali tugas guru sebagai penata karakter manusia.
Xúnzǐ dan Konteks Pemikirannya
Xúnzǐ, atau Xun Kuang, merupakan salah satu pemikir besar dalam tradisi Konfusianisme. Ia hidup pada masa pergolakan politik dan sosial, namun meninggalkan gagasan yang terus hidup dalam etika Timur. Berbeda dengan Mencius yang mengatakan bahwa *“kodrat manusia pada dasarnya baik”*, Xúnzǐ justru menyatakan secara tegas bahwa *“human nature is bad. Good is a human product.”* (Patricia Ebrey, 1993: 25). Pandangan ini bukan sudut pandang pesimistis, tetapi berangkat dari observasi tajamnya bahwa manusia membawa kecenderungan negatif seperti keserakahan, iri, dan keinginan materi. Karena itu, baginya pendidikan adalah kebutuhan mendasar untuk menata manusia dan membentuknya menjadi pribadi yang bijaksana.
Menurut Xúnzǐ, manusia lahir dengan berbagai dorongan instingtif yang dapat membawa pada tindakan destruktif jika tidak diarahkan. Ia menulis bahwa manusia *“dilahirkan dengan cinta pada keuntungan; jika mengikuti kecenderungan itu, mereka akan bertengkar dan saling merebut”* (Reksosusilo, 2008:56). Ia juga mengatakan bahwa manusia *“lahir dengan rasa iri dan benci; jika ini diikuti, maka kekerasan akan merajalela dan kehendak baik akan mati.”* Pernyataan ini menunjukkan bahwa kodrat buruk manusia bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi harus dipahami agar proses pendidikan benar-benar menyentuh akar persoalan moral. Guru dalam konteks ini bukan sekadar pengajar, tetapi pembimbing yang menata benih kecenderungan manusia menuju keutamaan.
Xúnzǐ mengajarkan bahwa kebaikan berasal dari proses panjang latihan moral (*wei*) dan bukan anugerah yang datang dengan sendirinya. Ia berkata, *“Jika manusia tidak menjalani latihan, maka kecenderungan buruknya akan berkembang; namun jika ia terdidik dengan tepat, benih kebaikan akan muncul.”* (Fung Yu-Lan, 1990:192). Latihan itu meliputi pengulangan tindakan baik, ketekunan dalam belajar, dan kebiasaan moral yang diarahkan oleh guru. Pemikiran ini sangat relevan dengan konsep pendidikan karakter yang saat ini menjadi prioritas nasional. Guru menjadi pemandu dalam proses pembiasaan, yang membuat peserta didik mampu mengubah dorongan naluriah menjadi tindakan etis.
Guru sebagai Pencipta Budaya dan Penata Kebajikan
Salah satu gagasan penting Xúnzǐ adalah keyakinannya bahwa manusia adalah pencipta budaya. Ia menulis bahwa manusia *“mampu menciptakan apa yang tidak diberikan oleh alam”* (Fung Yu-Lan, 1990:187). Pernyataan ini memberikan dasar filosofis bagi peran guru sebagai arsitek moral dan budaya. Guru bukan hanya mengubah individu, tetapi mengubah masyarakat melalui nilai-nilai yang ia tanamkan. Dalam konteks HUT PGRI, hal ini mengingatkan bahwa organisasi guru bukan sekadar wadah profesi, tetapi penjaga kebudayaan pendidikan. Guru sebagai agen kebudayaan memiliki tanggung jawab menjaga agar nilai kebaikan, kepedulian, dan integritas tetap hidup dalam kehidupan berbangsa.
Xúnzǐ menyatakan secara eksplisit bahwa *“manusia tidak dapat hidup tanpa organisasi sosial”* (Fung Yu-Lan, 1990:189). Ia meyakini bahwa manusia menjadi kuat ketika hidup bersama dan menjadi lemah jika hidup sendiri. Sekolah sebagai komunitas belajar adalah ruang latihan pertama bagi manusia untuk memahami nilai hidup bersama. Guru mengajarkan keterampilan sosial, etika, gotong royong, dan sikap hormat terhadap yang lain. Dalam dunia modern yang semakin individualistik, pesan Xúnzǐ ini mengingatkan bahwa pembentukan manusia tidak hanya dilakukan melalui pengetahuan, tetapi melalui pengalaman relasional yang dipandu oleh guru.
Bagi Xúnzǐ, ritus bukan sekadar upacara, tetapi mekanisme penting untuk menanamkan nilai moral dalam diri manusia. Ia menulis: *“Ritus memperhatikan permulaan dan akhir hidup manusia; jika keduanya diperlakukan dengan baik, jalan kemanusiaan menjadi sempurna.”* (Fung Yu-Lan, 1990:196). Dalam pendidikan, ritus seperti upacara bendera, tata cara berdoa, salam dan sopan santun, atau aturan berpakaian memiliki fungsi pedagogis untuk membentuk sikap teratur dan hormat. Guru menjalankan peran fundamental dalam menjaga ritus ini tetap hidup, sehingga nilai-nilai luhur dapat diturunkan dari generasi ke generasi.
Guru sebagai Penuntun Kebijaksanaan
Pemikiran Xúnzǐ memberikan pesan mendalam pada Hari Guru Nasional dan HUT PGRI 2025 ini: bahwa manusia menjadi bijaksana bukan karena kodratnya, tetapi karena pendidikannya. Guru adalah sosok yang mengolah benih kebaikan dalam diri manusia, menjaga ritus budaya, membentuk karakter melalui latihan, serta menuntun peserta didik menuju kehidupan bermoral. Seperti ditegaskan Xúnzǐ, *“kebijaksanaan adalah sesuatu yang dicapai, bukan diwarisi.”* Dengan demikian, guru Indonesia dipanggil untuk menjadi *guru kebijaksanaan*—pendidik yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi membimbing manusia menuju nilai dan kebajikan. Selamat Hari Guru Nasional. Selamat HUT PGRI. Semoga para guru terus menjadi pelita bagi kemanusiaan dan peradaban baru.
(Foto Xunzi sumber Wikipedia Bahasa Indonesia _google)
*Biografi Singkat Xúnzǐ (荀子)
Xúnzǐ (± 310–235 SM) adalah salah satu filsuf besar dalam tradisi Konfusianisme pada Zaman Negara-Negara Berperang di Tiongkok. Ia dikenal sebagai pemikir rasional, kritis, dan sistematis yang menekankan pentingnya pendidikan, ritual (lǐ), serta pembentukan karakter melalui kebiasaan yang benar. Berbeda dengan Mencius yang percaya bahwa manusia pada dasarnya baik, Xunzi justru berpendapat bahwa “sifat manusia pada dasarnya cenderung pada kepentingan diri, sehingga perlu dibentuk melalui pendidikan dan tata moral.” Murid-murid terkenalnya antara lain Han Feizi (pendiri legalisme) dan Li Si (Perdana Menteri Dinasti Qin). Karya-karyanya dikumpulkan dalam buku berjudul “Xúnzǐ”, yang berisi esai-esai filosofis mengenai moralitas, pendidikan, politik, bahasa, dan tatanan sosial.
Komentar
Posting Komentar